Dihantui Resesi, Bursa Asia Dibuka Melemah

Dihantui Resesi, Bursa Asia Dibuka Melemah
Dihantui Resesi, Bursa Asia Dibuka Melemah

Bursa Asia Pasifik diperdagangkan lebih rendah karena kekhawatiran resesi tumbuh. Penjualan ritel Amerika Serikat (AS) yang mengecewakan untuk November menunjukkan inflasi berdampak buruk pada konsumen, sehingga meningkatkan kekhawatiran bahwa kenaikan suku bunga mendorong ekonomi ke dalam resesi.

Di Australia, S&P/ ASX 200 turun 0,52%. Di Jepang, Nikkei 225 turun 1,44%, memimpin penurunan di wilayah tersebut, sementara Topix kehilangan 73%. Kospi di Korea Selatan juga turun 0,69%.

Sementara di Wall Street, Dow Jones Industrial Average turun 764,13 poin, atau 2,25%, menjadi 33.202,22 — di hari terburuk sejak September karena harapan reli akhir tahun berkurang. S&P 500 turun 2,49% menjadi 3.895,75, membawa penurunannya untuk Desember menjadi sekitar 4,5%. Nasdaq Composite anjlok 3,23% menjadi 10.810,53 karena indeks teknologi berat yang terpuruk itu memperpanjang kerugiannya di tahun 2022 menjadi hampir 31%.

Laporan penjualan ritel AS yang mengecewakan menunjukkan bahwa inflasi berdampak pada konsumen. Penjualan ritel turun 0,6% pada November, menurut Departemen Perdagangan. Itu adalah kerugian yang lebih besar dari perkiraan Dow Jones penurunan 0,3%. Menurunnya ritel meningkatkankekhawatiran akan resesi.

Departemen Perdagangan AS memberlakukan pembatasan pada perusahaan Tiongkok atas upaya mereka untuk menggunakan teknologi canggih yang membantu memodernisasi militer Tiongkok. Itu terjadi hanya dua bulan setelah pemerintahan Presiden AS Joe Biden mengekang akses Tiongkok ke semikonduktor canggih.

Hari kedua Konferensi Kerja Ekonomi Pusat tahunan Tiongkok dilaporkan akan berlangsung secara tertutup. Otoritas Hong Kong akan merilis pembacaan tingkat pengangguran untuk periode September-November di kemudian hari.

Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur au Jibun Bank Flash Jepang turun ke 48,8 yang disesuaikan secara musiman pada Desember dari 49,0 akhir pada November, menandai proyeksi terendah sejak Oktober 2020.

“Perusahaan manufaktur terus berjuang dalam menghadapi kondisi permintaan yang lemah dan tekanan inflasi yang parah,” kata S&P Global dalam rilis terbarunya, Kamis (15/12).

Angka di bawah 50 mengindikasikan kontraksi dari bulan sebelumnya, dan di atas 50 mengindikasikan ekspansi.

Ekspansi yang lebih kuat dalam output jasa untuk Desember tercermin dalam indeks aktivitas bisnis jasa, yang naik menjadi 51,7 pada Desember dari pembacaan akhir 50,3 pada November.