Kino Bidik Pendapatan Tumbuh Double Digit Capai Rp 4 Triliun

Kino Bidik Pendapatan Tumbuh Double Digit Capai Rp 4 Triliun
Kino Bidik Pendapatan Tumbuh Double Digit Capai Rp 4 Triliun

Emiten consumer goods PT Kino Indonesia Tbk (KINO), emiten barang consumer optimistis pendapatan pada 2023 tumbuh double digit atau melampaui Rp 4 triliun. Target tersebut merujuk tren pemulihan ekonomi usai longgarnya mobilitas masyarakat usai pandemi Covid-19.

“Kami belum bisa membagikan jumlah presentase pertumbuhan tahun 2023, karena masih dalam tahap budgeting. Namun kami menargetkan penjualan melampaui tren kinerja 3 tahun terakhir yakni di kisaran Rp 4 triliun. Semoga pada 2023 bisa naik dua digit,” ungkap Direktur PT Kino Indonesia Tbk, Budi Muljono dalam paparan publik KINO secara daring.

Budi menambahkan Kino optimistis dapat kembali mencatatkan laba, didorong upaya efisiensi seperti pengurangan stock keeping unit (SKU) dan efisiensi back-end. Saat ini, Kino memiliki lebih 700 SKU. Perusahaan juga memiliki 32 brand produk yang terbagi dalam 22 kategori. Adapun, pemangkasan jumlah SKU akan mengurangi beban produksi dan distribusi KINO. “Kami sudah melakukan evaluasi mana saja SKU yang bisa dikurangi dan mana yang layak dipertahankan,” tuturnya.

KINO juga berupaya meningkatkan kontribusi pendapatan dari segmen personal care yang masih berada di 37,8% hingga kuartal III 2022. Padahal, di tahun 2019 atau sebelum pandemi Covid-19 kontribusi segmen ini mencapai 46,8% dari total pendapatan bersih KINO.

Produk personal care yang dijual KINO cukup beragam di antaranya produk perawatan rambut, perawatan gigi, perawatan anak dan bayi, perawatan daerah kewanitaan, perawatan kulit, pengharum badan, penyegar udara, sabun cuci tangan, hingga hand sanitizer.

Sayangnya KINO tidak menyampaikan besaran capex atau belanja modal tahun depan. “Capex kami selalu disesuaikan dengan kebutuhan. Kalau untuk aspek keamanan dan pemeliharaan yang berkaitan langsung dengan kelangsungan usaha, tentu itu jadi prioritas kami,” ungkap Budi.

Sepanjang kuartal III 2022 , KINO membukukan penjualan bersih sebesar Rp 2,83 triliun, turun 3,3 % dibandingkan dengan tahun lalu sebesar Rp 2,93 triliun. Beban pokok penjualan naik 13,3 % secara year on year dari Rp 1,55 triliun menjadi Rp 1,76 triliun. Sehingga laba kotor KINO turun menjadi Rp 1,07 triliun dibandingkan Rp 1,37 triliun di periode yang sama pada 2021.

Penurunan laba kotor diikuti turunnya gross margin dari 47 % pada kuartal III 2021 menjadi 37,8 % hingga September 2022. Sementara posisi laba KINO berbalik membukukan rugi bersih Rp 245,78 miliar dibandingkan dengan laba bersih Rp 82,80 miliar pada kuartal III tahun lalu. “Dengan situsi yang ada, kami tetap optimistis tahun depan akan bisa membukukan kenaikan laba bersih lagi dengan berbagai inisiatif,” tuturnya.

Perseroan menyadari 2023 dibayangi resesi. Meski begitu, Budi mengatakan kondisi tahun depan tak akan jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya selama pandemi Covid-19 berlangsung.

Di sisi lain, KINO akan melakukan ekspansi di pasar luar negeri dengan membidik kontribusi penjualan mencapai 50%. Namun, rencana tersebut belum akan terealisasi dalam waktu dekat, mengingat situasi saat ini yang juga masih cukup dinamis.

“Suatu saat penjualan KINO dari luar negeri bisa berkontribusi mendekati 50%. Tapi kalau tahun depan, kita lihat potensinya. Kalau memang krisis, negara mana yang masih potensial di mana kita bisa menanam bibitnya dulu tanpa harus spending lebih di negara-negara tersebut,” ungkap Budi.

Kino sudah punya beberapa produk dan brand yang diterima di luar negeri seperti Jepang, Tiongkok, bahkan di Eropa.