Meski Biaya Tinggi, Penerbitan Obligasi 2023 Tetap Marak

Meski Biaya Tinggi, Penerbitan Obligasi 2023 Tetap Marak
Meski Biaya Tinggi, Penerbitan Obligasi 2023 Tetap Marak

Di tengah era suku bunga tinggi yang memicu kenaikan cost of fund (beban biaya), penerbitan obligasi korporasi pada tahun 2023 tetap marak. Hal ini sejalan dengan tingginya kebutuhan refinancing perusahaan pada tahun depan.

Ekonom Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Suhindarto menjelaskan, jumlah penerbitan tetap akan ramai pada tahun depan, tetapi nilainya akan lebih rendah ketimbang 2022. “Emisi pada tahun depan kemungkinan jumlahnya tidak akan jauh dari tahun 2022,” jelas Suhindarto kepada media.

Dia menambahkan, kecilnya nilai emisi karena 2023 merupakan tahun pemilu sehingga para perusahaan lebih bersikap wait and see. Di sisi lain, proyeksi kenaikan suku bunga yang akan berlanjut pada tahun depan juga akan menjadi kendala bagi korporasi untuk menerbitkan obligasi sejalan kenaikan biaya atau cost of fund. “Meski demikian kebutuhan akan refinancing akan menjadi pendorong korporasi untuk menerbitkan surat utang,” ujarnya.

Suhindarto mengungkapkan, suku bunga yang tinggi akan menjadi pemicu naiknya imbal hasil (yield) Surat Utang Negara (SUN) yang menjadi acuan obligasi korporasi. Dengan demikian, harga SUN tahun depan juga turut melemah. Kondisi ini memberatkan perusahaan penerbit, tetapi menguntungkan investor.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Pefindo Hendro Utomo mengatakan, pada 2023 finansial diproyeksikan menjadi salah satu sektor paling getol dalam menerbitkan obligasi seiring pulihnya pembiayaan. “Sektor lainya yang juga akan marak, yakni pulp & paper, konstruksi serta pertambangan,” kata dia.

Sementara hingga November 2022 Pefindo menyebut memegang mandat pemeringkatan obligasi dengan jumlah mencapai Rp 11,6 triliun yang yang berasal dari 17 perusahaan baik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun swasta. Secara terinci, sebanyak sembilan perusahaan berasal dari swasta dengan senilai Rp 6,78 triliun dan delapan perusahaan BUMN dengan nilai Rp 4,37 triliun.

Adapun secara sektoral, tercatat sektor industri pulp & paper berencana melakukan emisi obligasi sebesar Rp 2,03 triliun. sektor pertambangan sebesar Rp 2 triliun, sektor jalan tol Rp 1,5 triliun, multifinance Rp 1,5 triliun, dan sektor jasa kurir & logistik sebesar Rp 600 miliar.

Sedangkan dari segi jenis utangnya, Pefindo telah memberikan pemeringkatan penawaran umum berkelanjutan (PUB) berjumlah Rp 2,95 triliun, PUB obligasi Rp 2,93 triliun dan sukuk Rp 2,1 triliun. “Karena ini baru sebatas mandat, maka realisasi penerbitan bisa secepatnya atau mundur hingga tahun depan,” kata dia.

Risiko Gagal Bayar

Tren peningkatan suku bunga semakin menambah beban perusahaan yang memiliki utang serta meningkatkan cost of fund bagi penerbit obligasi.

Menurut Fixed Income Analyst Pefindo Ahmad Nasrudin, dengan kenaikan suku bunga akan meningkatkan risiko keuangan. Hal ini tergambar dari kenaikan premi yang diminta investor, spread antara yield obligasi korporasi dengan yield obligasi pemerintah.

Namun secara historis Ahmad melanjutkan, kenaikan ini dinilai wajar dan mendekati level sebelum pandemi atau level normal. “Kita tahu bahwa penurunan suku bunga di awal 2021 telah memicu penurunan beban bunga dan karena itu, investor menanggapi itu secara positif dengan meminta premi yang lebih rendah,” tutur Ahmad.

Untuk terhindar risiko gagal bayar, perusahaan seharusnya melakukan beberapa strategi khusus. Pada sektor industri komoditas misalnya, beberapa emiten mulai melakukan buyback. Dengan demikian emiten mendapatkan berkah dari kenaikan harga komoditas. Sehingga, aliran dana cash bisa lebih besar sebagai bentuk antisipasi atau untuk melunasi utang.