NATO Janjikan Bantuan Senjata ke Ukraina

NATO Janjikan Bantuan Senjata ke Ukraina

NATO menjanjikan pengiriman bantuan senjata dan peralatan untuk membantu memulihkan kekuatan Ukraina melawan Rusia di medan perang. Para menteri luar negeri dari aliansi NATO, termasuk Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Antony Blinken, memulai pertemuan selama dua hari di Bucharest untuk membahas upaya memperkuat militer Ukraina di tengah gempuran Rusia.

“Kami membutuhkan pertahanan udara, IRIS, Hawks, Patriots, dan kami membutuhkan transformer (untuk kebutuhan energi kami). Singkatnya, patriot dan transformer adalah yang paling dibutuhkan Ukraina,” kata Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba kepada wartawan di sela-sela pertemuan NATO.

Mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev memperingatkan NATO agar tidak memberikan sistem pertahanan rudal Patriot kepada Ukraina. Dia juga menyebut NATO sebagai “entitas kriminal” karena mengirimkan senjata ke Ukraina.

Pejabat AS dan Eropa mengatakan, para menteri akan fokus dalam pembicaraan pengiriman bantuan seperti bahan bakar, pasokan medis dan peralatan musim dingin, serta bantuan militer. Washington akan mengalokasikan anggaran sebesar 53 juta dolar AS untuk membeli peralatan jaringan listrik.

Rusia telah melakukan serangan besar-besaran terhadap transmisi listrik dan infrastruktur pemanas Ukraina sejak Oktober. Serangan ini membuat pasokan listrik di Ukraina terganggu. Warga Ukraina harus menghadapi pemadaman listrik di tengah suhu yang mencapai titik beku dan salju mulai turun.

Seorang pejabat perusahaan listrik mengatakan, 985.500 pelanggan di Kiev tidak memilliki listrik. Sementara perusahaan penyedia listrik lainnya mengatakan, Kiev akan mengalami pemadaman listrik darurat.

Warga Ukraina melarikan diri ke tempat perlindungan bom setelah mendengar sirene peringatan serangan udara. Di wilayah Donetsk timur, pasukan Rusia menggempur Ukraina dengan tembakan artileri, mortir, dan tank. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan, militer Rusia juga menyerang daerah Luhansk dan Kharkiv. Kedua wilayah berhasil direbut kembali oleh Ukraina dari Rusia pada September.

“Situasi di depan sulit. Meski mengalami kerugian yang sangat besar, penjajah masih berusaha untuk maju di Donetsk, Luhansk, dan Kharkiv. Mereka sedang merencanakan sesuatu di selatan,” ujar Zelenskyy.