Serikat Pekerja Masih Berharap Jiwasraya Tidak Ditutup

Serikat Pekerja Masih Berharap Jiwasraya Tidak Ditutup
Serikat Pekerja Masih Berharap Jiwasraya Tidak Ditutup

PT Asuransi Jiwasraya terancam akan tutup setelah beroperasi selama 163 tahun. Penyebabnya tak lain karena keuangannya yang terus merugi. Serikat Pekerja Jiwasraya mencatat kerugian sampai dengan akhir 2022 mencapai Rp 34 triliun.

Kebijakan pemutusan hubungan kerja (PHK) juga membayangi keberlangsungan hidup para pegawai. Menurut serikat pekerja, baru-baru ini sudah ada 70-100 orang pekerja dihentikan. Pegawai yang mendapat PHK pun tak dipenuhi haknya.

“Banyak masalah-masalah yang belum selesai misalnya bagaimana kami yang telah bekerja selama puluhan tahun dan memperhatikan nasib pensiunan dengan ditutupnya Jiwasraya, sehingga hal ini menambah kerugian, baik kami sebagai pegawai maupun pensiunan,” kata Ketua Umum Serikat Pekerja Jiwasraya, Hotman David di Polda Metro Jaya.

Hotman mengatakan, penutupan Jiwasraya direncanakan terjadi pada Juni 2023. Namun, itu pun belum pasti. Antara perusahaan dan pegawai juga belum ada kesepakatan.

“Dengan program PHK yang akan dilakukan, kami seluruh pegawai Jiwasraya menginginkan pekerjaan sampai pensiun nanti karena hal ini telah dijanjikan kami semua akan diberikan kelangsungan pekerjaan,” imbuhnya.

Sementara itu, Pengacara Serikat Pekerja Jiwasraya, Deolipa Yumara menambahkan, sangat disesalkan jika perusahaan plat merah itu harus tutup karena inkompetensi direksinya.

Namun, Deolipa menyakini Jiwasraya masih bisa diselamatkan jika asetnya dikelola dengan benar. Menurut Deolipa, aset Jiwasraya berupa ratusan gedung di daerah, lalu ada aset finansial seperti obligasi, saham, reksadana, deposito, tabungan dan lain sebagainya.

“Jiwasraya masih punya aset. Ada aset-aset Benny Tjokro yang disita Kejagung kalau dikembalikan ke Jiwasraya…Kalau ini tetap dijalankan, Jiwasraya tetap sehat-sehat saja,” kata Deolipa.